Kamis, 21 Oktober 2010

Akhir Musim di Pakis


Malam begitu dingin, sinar rembulan mulai redup ditelan awan yang berarak, langitpun kelam. Angin bulan maret mendesir lembut memainkan pucuk-pucuk pohon pinus, yang kemudian meliuk-liuk bagaikan seorang penari bali. Di bawah sebuah pohon besar, seorang laki-laki duduk bersandar. Wajahnya kuyu tak bergairah, seakan-akan sedang menanggung penderitaan yang teramat berat. Matanya yang teduh memandang kota pacitan yang terhampar di bawahnya. Kota pacitan memang kelihatan indah diwaktu malam, apalagi di lihat dari ketinggian tempat laki-laki itu duduk sendirian, aneka macam lampu dengan aneka cahayanya membuat kota kecil ini semakin cantik.
Alam sunyi dan lengang, sesekali terdengar nyanyian burung-burung malam memecah kesunyian, setelah itu, hening lagi. Laki-laki nampaknya sedang menikmati keindahan alam, dengan seluruh perasaannya. Sekilas dia merapatkan jaketnya, mengusir rasa dingin yang benar-benar mencekam. Kadang-kadang angin-angin nakal mempermainkan rambutnya yang hitam legam,, tapi sedikitpun dia tidak merasa terganggu. Begitu kuatnya dia menyatu dengan alam, sehingga dia tidak menghiraukan nyamuk-nyamuk liar yang sedang berpesta pora menghisap darah lewat permukaan kulitnya yang tidak terlindungi. Dia acuh saja, seperti juga alam mengacuhkan dirinya.
Sesekali asap mengepul dari bibirnya yang kering. Entah sudah berapa batang rokok dia habiskan. Padahal Nisby paling tidak suka melihat dia merokok, “ itu dapat membunuhmu pelan-pelan mas”, begitu ucapnya. Biasanya, dia dengan sukarela akan membuang rokok yang sudah siap dihisapnya. Tapi, entah mengapa malam ini dia melakukannya. “ Maafkan aku, byeb, Aku hanya ingin mengingat dirimu. Dan ini, dapat mengembalikan ingatanku padamu “, laki-laki itu mendesak pelan. Suaranya lenyap ditelan awan.
Lalu tiba-tiba ingatannya kembali pada masa silam, begitu cepat, peristiwa-peristiwa itu melintas begitu saja dalam pikirannya.
Dulu,  dunia seakan-akan kembali bersinar, cinta dan kasih sayang yang pernah lenyap dari dalam hatinya kembali menyala. Nisby, gadis yang memiliki mata teduh itulah, yang telah menyulutnya. Diapun merasa bahagia karena telah memperoleh cinta dan kasih sayang yang selama ini tak pernah didapatnya, terlebih dari kedua orang tuanya. Mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Memang benar menurut orang dia adalah orang yang paling bahagia. Sebagai anak seorang pejabat, yang tercukupi segala macam materinya.Tapi, orang-orang tak tahu bahwa dia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya, yakni kasih sayang dan perhatian. Maka, jangan salahkan dia yang lantas mencari kasih sayang itu pada minum-minuman keras, obat-obat terlarang, pesta dan hura-hura atau sekedar menghambur-hamburkan uang. Semua berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sampai suatu ketika dia berjumpa dengan Nisby, seorang gadis yang lembut, manis dan penuh kasih sayang.
Dengan kesabarannya, gadis itu membimbing dia untuk meninggalkan dunia yang penuh kegelapan itu, dan menawarkan dunia baru yang menjanjikan sinar terang. Dan pelan-pelan, gadis itu mengganti minum-minuman keras dengan perhatiannya, obat-obatan terlarang dengan ketulusan, serta pesta dan hura-hura dengan kasih sayangnya. Bagaikan musim semi, gadis itu telah membawa perubahan yang cukup besar dalam perjalanan hidupnya. Dia sudah bisa tersenyum bahagia, dan yang paling penting, gadis itu telah membuat hidupnya lebih bergairah, lebih bersemangat dan lebih bermakna. Sampai suatu ketika, datang peristiwa yang tak pernah dibayangkannya, maut telah menjadi takdir............ dan memisahkan dia dengan Nisby untuk selama-lamanya. Mendadak, duniapun menjadi berat, kelam, dan gelap gulita !.
Sekali lagi laki-laki itu mendesah pelah, awan yang menutupi rembulan berangsur-angsur lenyap. Langit kelihatan agak bersih, tapi masih belum mampu menembus kegelapan di bumi. Kembali laki-laki itu merapatkan jaketnya. Rasa dingin belum juga mau pergi. Sekilas wajahnya diterangi cahaya rembulan. Ada tetes-tetes air mata yang jatuh, tapi cepat-cepat dia menepisnya, “ Aku ndak boleh nangis”, katanya pada dirinya sendiri, masih jelas dalam ingatannya saat dia menangis terharu menyaksikan ketulusan hati Nisby yang merawat tubuhnya, ketika ia terbaring lemah karena habis kecelakaan. Padahal, sesedih apapun dia tak akan mengeluarkan air mata, bahkan, meskipun dikeroyok orang sepuluhpun sampai babak belur sekalipun, dia ndak bakalan menangis. Tapi, karena peristiwa yang sangat menyentuh perasaannya itu, dia akhirnya benar-benar meneteskan air mata. “ Jangan menangis mas, seorang laki-laki pantang menangis”. Gadis itu mencoba menghibur sambil tersenyum, padahal mata gadis itu sendiri sudah basah oleh air mata. “Aku ndak boleh nangis”, sekali lagi dia berkata pada dirinya sendiri, “Aku ingat, Nisby paling tidak suka melihat aku menangis”.
Malam makin larut. Kabut tipis perlahan turun menutupi kota pacitan dan sekitarnya. Laki-laki itu kembali menyalakan sebatang rokoknya. Kini dia sudah berdiri tegak. Sebentar dia menepuk-nepuk celananya yang kotor sebelum berjalan gontai. Langkahnya yang berat menyeret dia ke sebuah tepi jurang. Tiba di pinggirnya, matanya melirik ke bawah. Hanya gelap. Tapi dia yakin, dalamnya sudah cukup untuk melaksanakan niatnya. Ditetapkannya hatinya, rokok yang baru beberapa kali dihisap, dilempar ke bawah. Benda itu meluncur deras sebelum sinarnya hilang ditelan gelapnya malam.
Tiba-tiba saja dadanya gemuruh, kakinya gemetar dan keringat dingin mulai deras keluar seiring dengan detak jantungnya yang berpacu lebih cepat dari biasanya. Sepenuh hati, dikuatkannya tapi dia tidak mampu. Ada keraguan yang kemudian menguasai hatinya. Padahal, sejak berangkat dari rumah, tekadnya sudah bulat. Tapi, mengapa sekarang jadi ragu ?, benarkah jalan yang akan dia tempuh ini ?. Dan, tiba-tiba saja wajah Nisby kembali hadir di depan matanya. Wajah gadis itu kelihatan murung dan pucat. Tangannya yang mungil menggapai-nggapai seakan-akan menolak dia. Lalu, jelas dilihatnya gadis itu menggeleng-gelengkan kepala, makin lama makin cepat sampai akhirnya bayangan itu lenyap.
Laki-laki itu masih tegak berdiri di pinggir jurang. Rasa dingin sudah tidak dihiraukannya lagi. Tubuhnya sudah basah, namun keringat sudah berhenti mengalir dan detak jantungnya pun sudah kembali normal. Pelan dia mengusap wajahnya. Lalu, dia menyebut nama Tuhan berkali-kali. Kesadarannya mulai pulih. “Untung belum terjadi”, katanya bersyukur, “Nisby pasti akan kecewa sekali kalau itu benar-benar aku lakukan”. Alam masih sunyi. Dia mengangkat wajahnya. Langit benar-benar bersih. Bulan purnama tanggal 15 mulai memancarkan pesonanya. Dan laki-laki itu termenung lama sebelum akhirnya tersenyum penuh kemenangan.
Tapi, pada saat dia akan meninggalkan tempat itu, mendadak tanah yang diinjaknya berderak keras,..... Longsor......!, serpihan batu terlempar jatuh ke bawah. Laki-laki itu kehilangan keseimbangannya.. tubuhnya meluncur,  makin lama makin deras menembus pekatnya jurang, sebelum akhirnya terhempas. Jeritnya yang panjang melengking membangkitkan bulu roma. Setelah itu, diam. Untuk selama-lamanya.
Angin masih mendesir. Alam masih lengang. Kabutpun mulai tebal. Di langit, bulan masih bersinar, tapi cahayanya mengendur pucat, tak bermakna.