Jumat, 22 Oktober 2010

Geografi, Pembelajaran, dan Multimedia

Sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi upaya pembaharuan bidang pendidikan atau pembelajaran di Indonesia senantiasa dilakukan. Model pembelajaran geografi berbasis teknologi multimedia yang secara sengaja dan kreatif dirancang untuk membantu memecahkan permasalahan pembelajaran, kiranya merupakan alternatif yang akan banyak memberikan manfaat dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran geografi. Berbagai bentuk pengalaman belajar, baik yang dapat dicapai di dalam kelas maupun di luar kelas dan pesan-pesan pembelajaran, perlu dikemas dengan memperhatikan kaidah serta prinsip teknologi pembelajaran dalam bentuk teknologi multimedia.
Dengan pemanfaatan teknologi multimedia diharapkan pesan pembelajaran dapat dikemas lebih sistemik-sistematik sehingga dapat diterima oleh siswa dengan baik dan mudah, serta menciptakan pembelajaran yang menyenangkan (enjoyment atau joyful learning), fleksibel dalam dimensi waktu, serta mengembangkan potensi siswa secara individual.

I. PENDAHULUAN

Kemajuan di bidang teknologi pendidikan (educational technology), maupun teknologi pembelajaran (instructional technology) menuntut digunakannya berbagai media pembelajaran (instructional media) serta peralatan-peralatan yang semakin canggih (sophisticated). Boleh dikatakan bahwa dunia pendidikan dewasa ini hidup dalam dunia media, di mana kegiatan pembelajaran telah bergerak menuju dikuranginya sistem penyampaian bahan pembelajaran secara konvensional yang lebih mengedepankan metode ceramah, dan diganti dengan sistem penyampaian bahan pembelajaran modern yang lebih mengedepankan peran pebelajar dan pemanfaatan teknologi multimedia. Lebih-lebih pada kegiatan pembelajaran yang menekankan pada kompetensi-kompetensi yang terkait dengan keterampilan proses, peran media pembelajaran menjadi semakin penting. Pembelajaran geografi yang dirancang secara baik dan kreatif dengan memanfaatkan teknologi multimedia, dalam batas-batas tertentu akan dapat memperbesar kemungkinan siswa untuk belajar lebih banyak, mencamkan apa yang dipelajarinya lebih baik, dan meningkatkan kualitas pembelajaran geografi, khususnya dalam rangka meningkatkan ketercapaian kompetensi

Sementara itu realitas yang ada dan terjadi terjadi di lapangan, ada kesan bahwa kemampuan guru masih rendah. Sebagian besar dari mereka masih berpredikat sebagai pelaksana kurikulum, bahkan di antara kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan lebih bersifat rutinitas. Guru belum siap menghadapi berbagai perubahan, di samping terbatasnya akses pada materi pembelajaran mutakhir. Motivasi dan kesiapan belajar peserta didik juga rendah. Kurangnya waktu belajar, lingkup materi yang sangat luas, serta laju/akselerasi perubahan (change) di bidang ilmu, teknologi dan seni berjalan begitu cepat. Realitas di lapangan yang menunjukkan adanya keterbatasan media pembelajaran baik jenis maupun jumlahnya, serta kemampuan guru memanfaatkan media masih kurang. Suasana kelas kurang memotivasi peserta didik melakukan kegiatan belajar. Demikian juga interaksi pembelajaran belum optimal.

Memperhatikan fenomena di atas, betapa kemampuan guru masih sangat perlu untuk senantiasa ditingkatkan kualitasnya, terutama jika dikaitkan dengan tuntutan tugas guru di era globaliasi saat ini yang ditandai oleh semakin meluasnya penggunaan teknologi multimedia. Permasalahan yang harus segera dipecahkan adalah: bagaimana upaya meningkatkan kualitas pembelajaran geografi melalui pemanfaatan teknologi multimedia.

Apabila para guru mampu memanfaatkan, lebih-lebih mengembangkan pembelajaran yang berbasis teknologi multimedia maka dipastikan mutu pembelajaran akan meningkat lebih baik, terutama jika dikaitkan dengan era saat ini yang dicirikan oleh teknologi informasi. Dengan demikian, para guru lebih memiliki kompetensi mengajar sesuai tuntutan era teknologi informasi dan mendukung optimalisasi pembelajaran.

II. TEKNOLOGI MULTIMEDIA

Heinich, dkk (1982) mengartikan istilah media sebagai “the term refer to anything that carries information between a source and a receiver”. Sementara media pembelajaran dimaknai sebagai wahana penyalur pesan atau informasi belajar. Batasan tersebut terungkap antara lain dari pendapat-pendapat para ahli seperti Wilbur Schramm (1971), Gagne dan Briggs (1970). Dari pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa setidaknya mereka sependapat bahwa: (a) media merupakan wadah dari pesan yang oleh sumber atau penyalurnya ingin diteruskan kepada sasaran atau penerima pesan tersebut, dan (b) bahwa materi yang ingin disampaikan adalah pesan pembelajaran, dan (c) bahwa tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar.

Yusufhadi Miarso (1985) memberikan batasan media pembelajaran sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang fikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa. Batasan yang sederhana ini memiliki arti yang sangat luas dan mendalam, mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran.

Konsep teknologi multimedia (TM) bukan sekadar penggunaan media secara majemuk untuk pencapaian kompetensi tertentu, namun mencakup pengertian perlunya integrasi berbagai jenis media yang digunakan dalam suatu penyajian yang tersusun secara baik (sistemik dan sistematik). Masing-masing media dalam teknologi multimedia ini dirancang untuk saling melengkapi sehingga secara keseluruhan media yang digunakan akan menjadi lebih besar peranannya dari pada sekedar penjumlahan dari masing-masing media. Dengan demikian teknologi multimedia yang dimaksud dalam tulisan ini tidak semata-mata penggunaan berbagai media secara bersamaan, namun mensyaratkan atau identik dengan teknologi multimedia yang berbasis komputer, interaktif dan pembelajaran mandiri. Dengan TM yang berbasis komputer juga terkandung sifat interaktif antara siswa dengan media secara individual. Maka konsep teknologi multimedia selalu berkonotasi atau identik dengan media pembelajaran yang berbasis computer, interaktif dan mandiri.

Bentuk-bentuk teknologi multimedia yang banyak digunakan di kelas/sekolah adalah kombinasi multimedia dalam bentuk satu kit (perangkat) yang disatukan. Satu perangkat (kit) multimedia adalah gabungan bahan-bahan pembelajaran yang meliputi lebih dari satu jenis media dan disusun atau digabungkan berdasarkan atas satu topik tertentu. Perangkat (kit) ini dapat mencakup slide, film, suara, gambar diam, grafik, peta, buku, chart, dan lain-lain menjadi satu model. Misalnya: CD pembelajaran atau CD interaktif.

Sejumlah karakteristik yang menonjol dari TM di antaranya adalah:
(1) small steps,
(2) active responding, dan
(3) immediate feedback. (Burke, dalam Pramono, 1996:19).

Sementara Elida dan Nugroho (2003:111) yang mengutip Roblyer dan Hanafin mengidentifikasi adanya 12 karakteristik TM yaitu:
(1) dirancang berdasarkan kompetensi/tujuan pembelajaran,
(2) dirancang sesuai dengan karakteristik pebelajar,
(3) memaksimalkan interaksi,
(4) bersifat individual,
(5) memadukan berbagai jenis media,
(6) mendekati pebelajar secara positif,
(7) menyiapkan bermacam-macam umpan balik,
(8) cocok dengan lingkungan pembelajaran,
(9) menilai penampilan secara patut,
(10) menggunakan sumber-sumber komputer secara maksimal,
(11) dirancang berdasarkan prinsip desain pembelajaran,
(12) seluruh program sudah dievaluasi.

Dengan melihat sejumlah karakteristiknya, maka TM memiliki sejumlah manfaat di antaranya:
(1) mengatasi kelemahan pada pembelajaran kelompok maupun individual,
(2) membantu menjadikan gambar atau contoh yang sulit didapatkan di lingkungan sekolah menjadi lebih konkrit,
(3) memungkinkan pengulangan sampai berkali-kali tanpa rasa malu bagi yang berbuat salah,
(4) mendukung pembelajaran individual,
(5) lebih mengenal dan terbiasa dengan komputer,
(6) merupakan media pembelajaran yang efektif,
(7) menciptakan pembelajaran yang “enjoyment” atau “joyful learning”.

III. MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS TEKNOLOGI MULTIMEDIA

Berbicara multimedia adalah identik dengan pembelajaran dengan komputer, mandiri dan interaktif. Pembelajaran berbasis Teknologi Multimedia (TM), dimaksudkan adalah model atau produk desain pembelajaran yang secara sengaja didesain dan dikembangkan dengan teknologi multimedia sebagai basis guna memfasilitasi dan memudahkan belajar. TM yang sekarang ada merupakan aplikasi dari Pembelajaran Berprograma (Programmed Instruction) yang merupakan produk/temuan spektakular dari Skinner, atau yang oleh AECT dikenal dengan Pembelajaran Arah Diri (Individually Prescribe Instruction) (AECT, 1977: 204). Dengan TM sangat dimungkinkan perhatian dan partisipasi peserta didik dapat ditingkatkan. Criswell (1989:1) menggunakan istilah PBK (Pembelajaran Berbasis Komputer). Ia mengemukakan: ….to any use of computer to present instructional material, provide for active participation of the student action. Very simply, the goal of Computer-Based Instruction (CBI) is to teach.

Dengan TM ini memungkinkan terjadinya interaksi-interaksi yang ekstensif antara komputer sebagai perangkat kerasnya dengan pebelajar, artinya pada saat yang bersamaan, pebelajar dapat berinteraksi dengan multimedia lewat komputer. Dalam TM pebelajar dapat melakukan interaksi langsung secara individual dengan komputer. TM pada umumnya dikembangkan secara linear atau branching. TM model linear disebut juga Skinnerian Program, yang menggunakan langkah-langkah belajar yang kecil dan penguatan langsung dengan jawaban benar adalah cara terbaik untuk belajar. Dalam Skinnerian program ini, pebelajar melakukan kegiatan belajar menggunakan prinsip maju berkelanjutan melalui penguasaan kompetensi dalam pembelajaran, bergerak dari satu frame atau unit pembelajaran ke unit pembelajaran berikutnya. Sedangkan dalam model branching, desain pembelajaran menyediakan sejumlah cara yang dapat dilalui oleh pebelajar dalam mengikuti pembelajaran, agar dapat berpindah dari satu unit pembelajaran, ke unit pembelajaran berikutnya.

IV. PERGESERAN FUNGSI TEKNOLOGI MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN

Dewasa ini masih banyak guru-guru yang enggan memanfaatkan media yang ada lebih-lebih teknologi multimedia untuk kegiatan pembelajaran. Masih banyak kecenderungan bahwa para siswa dibiasakan untuk mendengarkan apa yang diajarkan oleh guru, kemudian mencatat dan dipaksa untuk menghafalkannya di luar kepala. Keadaan semacam ini jelas akan menghasilkan sikap verbalistik, yang menyebabkan peserta didik menjadi pasif dan kegiatan pembelajaran menjadi cepat menjemukan. Untuk itu penggunaan teknologi multimedia dalam pembelajaran akan sangat membantu dalam rangka mengembangkan pembelajaran yang menyenangkan (joyful learning/ joyful class) serta mengaktifkan siswa.

Betapa pentingnya fungsi teknologi multimedia di dalam kegiatan pembelajaran dapat dijelaskan sebagai berikut.

Pada awalnya media hanya berfungsi sebagai alat visual (alat peraga) dalam kegiatan pembelajaran. Baru pada kira-kira pertengahan abad ke-20, dengan masuknya pengaruh dari teknologi audio, lahirlah peraga audio visual yang menekankan penggunaan pengalaman konkret untuk menghindari verbalisme. Dalam usaha untuk memanfaatkan media sebagai alat bantu mengajar ini Edgar Dale (1969) dalam bukunya “Audio visual methods in teaching” membuat klasifikasi pengalaman berlapis menurut jenjang/tingkat dari yang paling konkret ke yang paling abstrak. Klasifikasi tersebut kemudian menjadi sangat popular/terkenal dengan nama Kerucut Pengalaman (the cone of experience).

Pada akhir tahun 1950-an, teori komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan alat bantu audio-visual, sehingga fungsi media sebagai alat peraga mulai bergeser menjadi penyalur pesan/informasi belajar.

Tahun 1960-an, teori tingkah laku (behaviorism-theory) ajaran BF.Skinner, mulai mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran. Menurut teori ini mendidik adalah mengubah tingkah laku siswa. Karenanya orientasi tujuan pembelajaran (tujuan instruksional) haruslah mengarah kepada perubahan tingkah laku siswa. Teori ini mendorong diciptakannya media yang dapat mengubah tingkah laku siswa sebagai hasil kegiatan pembelajaran. Media pembelajaran yang terkenal sebagai produk dari teori ini adalah teaching-machine dan programmed-instruction.

Sejak tahun 1965 di mana penggunaan pendekatan sistem (system approach) mulai memasuki khasanah pendidikan maupun kegiatan pembelajaran. Pendekatan sistem ini mendorong digunakannya media sebagai bagian integral dalam program pembelajaran. Bahkan James W Brown (1977), tokoh dalam bidang teknologi, media dan metode pembelajaran, memandang bahwa media itu sebagai central-elements, dengan mengatakan: “media are regarded as central-elements in the approach to the systematic instruction”.

Dengan konsepsi yang semakin mantap itu, fungsi media dalam kegiatan pembelajaran tidak lagi sekedar peraga bagi guru melainkan pembawa informasi/pesan pembelajaran yang dibutuhkan siswa. Dengan demikian pola interaksi edukatif menjadi lebih bervariasi hingga meliputi 5 pola berikut:
1. Sumber berupa orang saja (seperti yang kebanyakan terjadi di sekolah kita sekarang)
2. Sumber berupa orang yang dibantu oleh/dengan sumber lain.
3. Sumber berupa orang bersama dengan sumber lain berdasarkan suatu pembagian tanggung jawab.
4. Sumber lain saja tanpa sumber berupa orang.
5. Kombinasi dari keempat pola tersebut dalam bentuk suatu sistem.

V. KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN DENGAN TEKNOLOGI MULTIMEDIA

Karakteristik utama dari pembelajaran dengan teknologi multimedia adalah mengintegrasikan berbagai bentuk materi seperti: teks, gambar, grafis, dan suara yang dioperasikan dengan komputer. Pembelajaran dengan teknologi multimedia sangat bermanfaat bagi siswa, setidak-tidaknya dalam beberapa hal seperti: mendorong rasa ingin tahu siswa, mendorong keinginan untuk mengubah sesuatu yang sudah ada, dan mendorong keinginan siswa untuk mencoba hal-hal yang baru, dan lain-lain.

Kelebihan:

Pembelajaran dengan teknologi multimedia memiliki kelebihan-kelebihan antara lain:
(1) memungkinkan terjadinya interaksi antar siswa dengan materi pembelajaran
(2) proses belajar secara individual sesuai kemampuan siswa
(3) menampilkan unsur audiovisual.
(4) langsung memberikan umpan balik dan
(5) menciptakan proses belajar yang berkesinambungan

Kekurangan.

Beberapa kekurangan dari pembelajaran dengan teknologi multimedia di antaranya adalah:
(1) pembelajaran dengan teknologi multimedia mengharuskan dioperasikan melalui komputer sebagai perangkat keras (hardware)-nya.
(2) peralatan untuk memanfaatkannya relatif mahal,
(3) perlu keterampilan khusus untuk mengoperasikannya, dan
(4) perlu keterampilan dan keahlian istimewa untuk mengembangkannya.

VI. PEMANFAATAN TEKNOLOGI MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI

A. Pengertian Geografi

Pengertian geografi telah mengalami perkembangan dari wakyu ke waktu. Istilah geografi untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Erastothenes pada abad ke 1. Menurut Erastothenes geografi berasal dari kata geographica yang berarti penulisan atau penggambaran mengenai bumi. Berdasarkan pendapat tersebut, maka para ahli geografi (geograf) sependapat bahwa Erastothenes dianggap sebagai peletak dasar pengetahuan geografi. Pada awal abad ke-2, muncul tokoh baru yaitu Claudius Ptolomaeus yang mengatakan bahwa geografi adalah suatu penyajian melalui peta dari sebagian atau seluruh permukaan bumi. Jadi Claudius Ptolomaeus mementingkan peta untuk memberikan informasi tentang permukaan bumi secara umum. Kumpulan dari peta Ptolomaeus dibukukan, dan diberi nama ‘Atlas Ptolomaeus’. Menjelang akhir abad ke-18, perkembangan geografi semakin pesat. Pada masa ini berkembang aliran fisis determinis dengan tokohnya yang terkenal yaitu Ellsworth Hunthington. Di Perancis faham posibilis terkenal dengan tokoh geografnya yaitu Paul Vidal de la Blache, dengan sumbangannya yang terkenal adalah “Gen re de vie”. Pengertian geografi itu sendiri selalu mengalami perkembangan serta perbedaan.

Permendiknas no. 22 tahun 2006 menetapkan bahwa Geografi merupakan ilmu untuk menunjang kehidupan sepanjang hayat dan mendorong peningkatan kehidupan. Lingkup bidang kajiannya memungkinkan manusia memperoleh jawaban atas pertanyaan dunia sekelilingnya yang menekankan pada aspek spasial, dan ekologis dari eksistensi manusia. Bidang kajian geografi meliputi bumi, aspek dan proses yang membentuknya, hubungan kausal dan spasial manusia dengan lingkungan, serta interaksi manusia dengan tempat. Sebagai suatu disiplin integratif, geografi memadukan dimensi alam fisik dengan dimensi manusia dalam menelaah keberadaan dan kehidupan manusia di tempat dan lingkungannya.

Mata pelajaran Geografi membangun dan mengembangkan pemahaman peserta didik tentang variasi dan organisasi spasial masyarakat, tempat dan lingkungan pada muka bumi. Peserta didik didorong untuk memahami aspek dan proses fisik yang membentuk pola muka bumi, karakteristik dan persebaran spasial ekologis di permukaan bumi. Selain itu peserta didik dimotivasi secara aktif dan kreatif untuk menelaah bahwa kebudayaan dan pengalaman mempengaruhi persepsi manusia tentang tempat dan wilayah.

Pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperoleh dalam mata pelajaran Geografi diharapkan dapat membangun kemampuan peserta didik untuk bersikap, bertindak cerdas, arif, dan bertanggungjawab dalam menghadapi masalah sosial, ekonomi, dan ekologis. Pada tingkat pendidikan dasar mata pelajaran Geografi diberikan sebagai bagian integral dari Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), sedangkan pada tingkat pendidikan menengah diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri.

B. Pengembangan Konsep

Konsep geografi perlu dikembangkan dengan terlebih dahulu memperhatikan pada tubuh pengetahuan (the body of knowledge) geografi sebagai sebuah displin keilmuan. Sebagai sebuah disiplin keilmuan, geografi memiliki objek kajian, atau dapat disebut sebagai objek pembelajaran geografi. Objek pembelajaran geografi secara umum yaitu gejala-gejala geosfer yang meliputi litosfer, atmosfer, hidrosfer dan biosfer. Selanjutnya, gejala geosfer yang umum dan luas itu masih dikembangkan ke dalam studi-studi kekhususan. Di samping mendasarkan pada body of knowledge, pengembangan konsep geografi juga mendasarkan pada kompetensi yang harus dikuasai.

C. Pendekatan Pembelajaran

Sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, kegiatan pembelajaran geografi dilakukan dengan menggunakan pendekatan sbb.:.

1. Pendekatan Akademik/Keilmuan
Para geograf umumnya sependapat bahwa pendekatan atau hampiran (approach) di dalam geografi meliputi pendekatan keruangan, pendekatan kelingkungan dan pendekatan kewilayahan (Hagett,1972)

2. Pendekatan Praktis/Pembelajaran.
Sesuai dengan karakteristiknya, maka pendekatan praktis yang digunakan adalah Cooperative–Integreted Problem Based Learning, yaitu proses pembelajaran yang dilakukan:

a. Secara kelompok.
Dalam hal ini siswa melakukan kegiatan belajar secara kelompok (kooperatif) untuk mendiskusikan materi dan mengerjakan tugas-tugas, serta kegiatan belajar lainnya.

b. Materi terpadu dengan kehidupan.
Materi yang masih berupa konsep-konsep pokok kemudian dikembangkan dengan mendasarkan pada kondisi nyata dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual) secara terpadu.

c. Materi dipadukan dengan upaya peningkatan Iman dan Taqwa (Imtaq).
Materi pembelajaran yang sudah dikembangkan, kemudian dipadukan dengan upay-upaya peningkatan Imtaq.

Geografi yang dikaitkan dengan nilai-nilai Imtaq (religiusitas) diharapkan dapat menghasilkan lulusan dengan kualitas yang unggul (high quality graduates) baik secara akademik (academic qualification) maupun praktis (life skills).

D. Komponen Teknologi Multimedia Untuk Pembelajaran Geografi

Dari uraian terdahulu telah dikemukakan betapa pentingnya peranan media sebagai salah satu sumber para pelajar bagi para pembelajar. Oleh karenanya perlu sekali untuk diketahui komponen-komponen yang perlu disiapkan untuk mengembangkan multimedia pembelajaran geografi. Komponen-komponen multimedia pembelajaran geografi tersebut di antaranya adalah:
1. Bahan visual
2. Bahan audio
3. Permainan dan simulasi

1. Bahan-bahan visual

Secara garis besar bahan visual ini dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu gambar, diagram, serta model dan realia.

a. Gambar diam (still picture)
Adalah gambar fotografik atau menyerupai fotografik yang mewakili/menggambarkan lokasi/tempat, objek-objek tertentu serta benda-benda. Gambar diam yang paling sering digunakan dalam geografi adalah peta, gambar mengenai objek-objek tertentu seperti: gunung, pegunungan, lereng, lembah, bentang darat, bentang perairan, dan sebagainya.

b. Bahan-bahan grafis (graphic materials)
Adalah bahan-bahan non fotografik yang dirancang terutama untuk mengkomunikasikan suatu pesan kepada audience/siswa. Bahan-bahan grafis ini terdiri dari: grafik, diagram, chart, poster, kartun, dan komik.

Untuk pembelajaran geografi dapat memanfaatkan model mengembangkan visualisasi konsep secara tepat.

2. Bahan-bahan Audio

Adalah berbagai bentuk/cara perekaman dan transmisi suara (manusia dan suara lainnya) untuk tujuan pembelajaran.

3. Permainan dan Simulasi

“Permainan” (game) adalah suatu kegiatan dimana para pemain berusaha mencapai tujuan yang ditetapkan dengan mengikuti aturan-aturan yang dipersyaratkan. Sedangkan “simulasi” (simulation) adalah suatu abstraksi atau penyederhanaan beberapa situasi atau proses kehidupan yang sederhana.

E. Prinsip Pengembangan Teknologi Multimedia Dalam Pembelajaran Geografi
Secara umum untuk mengembangkan teknologi multimedia pembelajaran geografi perlu diperhatikan prinsip VISUALS, yang dapat digambarkan sebagai singkatan (akronim) dari:

Visible : Mudah dilihat

Interesting : Menarik

Simple : Sederhana

Useful : Isinya beguna/bermanfaat

Accurate : Benar (dapat dipertanggungjawabkan)

Legitimate : Masuk akal/sah

Structured : Terstruktur/tersusun dengan baik

F. Aspek Teknologi Multimedia Dalam Pembelajaran Geografi

Secara garis besar, aspek utama untuk menentukan, memilih, atau bahkan dalam mengembangkan teknologi multimedia pembelajaran geografi dapat dikelompokkan ke dalam 3 aspek utama, kemudian secara gradual dijabarkan ke dalam sub aspek dan indikator:

Aspek Utama, Sub Aspek dan Indikator Teknologi Multimedia

Aspek Utama

I. ASPEK ISI
A. Kebenaran konsep
1. SK dan KD sesuai dengan Kurikulum yang berlaku
2. Materi sesuai dengan Kompetensi Dasar

B. Kebenaran Materi
3. Kedalaman dan keluasan materi cukup
4. Penyajian materi berurut
5. Penilaian/tes sesuai dengan indikator

II. ASPEK PEMBELAJARAN/ INSTRUKSIONAL
C. Kebahasaan
6. Mudah dipahami

D. Keterlaksanaan
7. Kejelasan penggunaan petunjuk belajar
8. Kejelasan memahami materi
9. Pemberian contoh sesuai dengan materi
10. Pemberian umpan balik memberi motivasi
11. Kecukupan latihan

E. Pendekatan
12. Belajar berbantuan komputer

III. ASPEK MEDIA
F. Tampilan
13. Keterbacaan teks
14. Kualitas tampilan gambar
15. Sajian animasi
16. Pemilihan komposisi warna
17. Kejelasan suara/narasi
18. Daya dukung musik
19. Tampilan layar
20. Pemilihan jenis dan ukuran fon

VII. PENUTUP

Untuk keberhasilan pemanfaatan teknologi multimedia untuk peningkatkan kualitas pembelajaran geografi, diperlukan sejumlah prasyarat di mana semua pihak perlu memiliki komitmen, memahami manfaat teknologi multimedia, memiliki sarana dan prasarana pendukung yang memadai, mampu & mau memanfaatkan teknologi multimedia. Semoga dengan pemanfaatan teknologi multimedia dapat menunjukkan perannya yang optimal dalam pembelajaran. Demikian juga halnya dengan upaya peningkatan mutu pendidikan segera terwujud dan mampu mengantarkan anak-anak bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat di mata bangsanya maupun di mata internasional.

DAFTAR PUSTAKA

AECT (1977). The definition of educational technology, Washington DC: AECT, (Edisi Bahasa Indonsia dengan judul: Definisi Teknologi Pendidikan, Seri Pustaka teknologi Pendidikan No. 7, 1994). Jakarta: PAU-UT & PT Rajawali.

Brown, James W., Richard B. Lewis, Fred F. Harcleroad, AV (1977) Intruction : Technology, media, and methods, New York : Mc Graw-Hill Book Company.

Criswell, Eleanor L. (1989). The design of computer-based instruction, New York: Macmillan Publishing Company.

Dale, Edgar, (1969) Audio visual methods in teaching, New York: Holt, Rinehart and Winston Inc. The Dryden Press.

Elida, T. & W. Nugroho (2003). Pengembangan computer assisted instruction (CAI) pada Praktikum Mata Kuliah Jaringan Komputer, Jurnal teknologi pendidikan, Vol. 5 no. 1. ISSN 1441-2744.

Gagne, Robert M. and Leslie J Briggs (1979). Principles of instructional design. New York: Holt, Rinehart and Winston.

Haggett, Peter (1972). Geography: A modern synthesis. New York: Harper and Row.

Heinich, Robert, Michael Molenda, James D. Russel, (1982) Instructional media: and the new technology of instruction, New York: Jonh Wily and Sons.

Jusufhadi Miarso, dkk., (1984) Teknologi komukikasi pendidikan: Pengertian dan penerapannya di Indonesia. Jakarta: Pustekkom Dikbut dan CV Rajawali.

Kemp, Jerrold E., Gery Morrison and Stevent M. Ross (1994). Designing efective instruction. New York: Mc Millan College Publishing Company, Inc.

Depdiknas (2006). Permendiknas no.22 tentang: Standar Isi

Trini Prastati dan Prasetya Irawan (2001) Media sederhana.Jakarta: PAU-PPAI