Minggu, 20 November 2011

Tips-Trik Survival


Mampu tidaknya mengatasi keadaan survival tergantung sepenuhnya pada tiga aspek yaitu mental, pengetahuan, dan peralatan. Untuk mengatasi masalah mental dapat berpegang pada kunci singkatan dari kata survival, dapat diartikan sebagai berikut :
1.    Sadarilah dengan sungguh-sungguh situasimu
2.    Untung malang tergantung pada ketenanganmu
3.    Rasa takut dan panik harus dikuasai
4.    Vakum/kekosongan melanda, harus segera diisi olehmu
5.    Ingat di mana kita berada
6.    Viva/hidup, hargailah olehmu
7.    Adat istiadat setempat patut diikuti, selama tidak melanggar aturan agamamu
8.    Latihlah diri dan belajarlah selalu
Ada empat faktor pengetahuan utama dalam survival, yaitu perlindungan, makanan, air, dan api. Keempat faktor tersebut kita butuhkan untuk melindungi diri dari panas, hujan, angin, dan dingin (dingin dan kebasahan dalam jangka waktu lama dan dengan intensitas yang tinggi sudah cukup untuk membunuh kita).

Rabu, 16 November 2011

Kajian Hidrogeomorfologi Mataair (spring water)


Mataair  (spring)  adalah pemusatan keluarnya airtanah yang muncul di permukaan tanah sebagai arus dari aliran airtanah (Tolman, 1937). Menurut Bryan (1919) dalam Todd (1980), berdasarkan sebab terjadinya mataair diklasifikasikan menjadi 2, yaitu: mataair yang dihasilkan oleh tenaga non gravitasi  (non gravitational spring)  dan mataair yang dihasilkan oleh tenaga gravitasi (gravitational spring). Mataair yang dihasilkan oleh tenaga non gravitasi meliputi: mataair vulkanik, mataair celah, mataair hangat, dan mataair panas.
Mataair gravitasi diklasifikasikan menjadi beberapa tipe, yaitu: mataair depresi  (depresion spring) yang terbentuk bila permukaan airtanah terpotong oleh topografi; mataair kontak (contact spring) terjadi bila lapisan yang lulus air terletak di atas lapisan kedap air; mataair artesis (artesian spring) yang keluar dari akuifer tertekan; dan mataair turbuler (turbulence spring) yang terdapat pada saluran-saluran alami pada formasi kulit bumi, seperti goa lava atau joint.

Selasa, 15 November 2011

Fisiografi palung Jawa dan fenomena gunung bawah-laut

Pulau Jawa merupakan bagian dari suatu busur kepulauan yang dikenal sebagai busur Sunda (Sunda arc) yang terletak di tepi Asia Tenggara dan terbentang mulai dari kepulauan Andaman-Nicobar di barat sampai busur Banda (Timor) di timur. Busur Sunda merupakan busur kepulauan hasil dari interaksi lempeng samudera (disini lempeng India-Australia yang bergerak ke utara dengan kecepatan 7 cm/tahun ) yang menunjam di bawah lempeng benua (disini Lempeng Eurasia) (Gambar-1 A).
Penunjaman lempeng terjadi di selatan busur Sunda berupa palung (trench) yang dikenal sebagai palung Jawa. Disamping itu, penunjaman lempeng juga menghasilkan sepasang busur vulkanik dan non-vulkanik. Busur vulkanik terdiri dari rangkaian gunung berapi yang menjadi tulang punggung pulau-pulau busur Sunda, sedangkan busur non-vulkanik merupakan rangkaian pulau-pulau yang terletak di sisi samudera busur vulkaniknya.

Paparan Sunda dan Paparan Sahul

Secara fisiografis wilayah Indonesia dibatasi  di sebelah selatan oleh suatu palung laut dalam yang memanjang dan dapat diikuti mulai dari  Burma-Andaman-Sumatra-Jawa hingga ke Kepulauan Banda di bagian Timur Indonesia, yang merupakan jalur penekukan dan penyusupan lempeng Hindia-Australia ke bawah lempeng Asia Tenggara.  Antara Indonesia bagian timur dan barat, terdapat perbedaan fisiografis yang mencolok.  Di Indonesia bagian barat terdapat busur-busur kepulauan, yang dibatasi oleh lautan dengan kedalaman rata-rata berkisar antara 200 meter dan membentuk suatu paparan yang luas yang dikenal dengan Sundaland.
Gambar 1. Peta Indonesia. sebagai negara kepulauan, sebelah barat terdiri dari pulau-pulau seperti Sumatera, Jawa, dan Kalimantan yang dipisahkan oleh laut dangkal, pulau-pulau Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara yang dipisahkan oleh laut dalam, dan Papua yang dengan benua Australia dipisahkan oleh laut dangkal

Di Indonesia bagian timur,  busur-busur kepulauannya dibatasi oleh lautan dengan kedalaman mencapai ribuan meter, dengan palung-palung dalam yang terdapat di antara busur lengkung yang tajam dan beda relief yang sangat tajam. Kedua fisiografi yang berbeda tersebut dibatasi oleh suatu garis imajiner yang membentang di atara Pulau Bali dan Pulau Lombok di selatan dan menerus ke utara melalui Selat Makasar. Garis tersebut dikenal sebagai garis Wallace yang awalnya merupakan garis pembatas yang memisahkan keragaman flora dan fauna antara Indonesia bagian barat dengan Indonesia bagian timur.

Fisiografis Pulau Jawa


Pulau Jawa memiliki sifat fisiografi yang khas, dan hal ini disebabkan karena beberapa keadaan. Satu di antaranya adalah iklim tropis, disamping itu ciri-ciri geografisnya disebabkan karena merupakan geosinklinal muda dan jalur orogenesa dengan banyak vulkanisme yang kuat. Karena kekuatan inilah mengakibatkan Pulau Jawa berbentuk memanjang dan sempit.
Perubahannya dalam bagian-bagian tertentu sepanjang dan searah dengan panjangnya pulau, dari tepi satu ke tepi yang lainnya. Sifat relief yang disebabkan oleh iklim tropis sudah diketahui dan dipetakan di Indonesia. Curah hujan yang besar dan temperatur yang tinggi menyebabkan pelapukan yang cepat dan intensif, juga denudasi, gejala yang mengikuti adalah erosi vertikal.

Senin, 14 November 2011

Kajian Dampak Perubahan Iklim terhadap Biodiversitas


Pemanasan global merupakan isu lingkungan hidup yang dapat menyebabkan perubahan iklim global. Perubahan iklim global terjadi secara perlahan dalam jangka waktu yang cukup panjang, antara 50–100 tahun. Walaupun terjadi secara perlahan, perubahan iklim memberikan dampak yang sangat besar pada kehidupan mahluk hidup. Dampak yang terjadi antara lain: mencairnya es di kutub, pergeseran musim, dan peningkatan permukaan air laut. Dampak tersebut memberikan pengaruh terhadap kelangsungan mahluk hidup. 

Mencairnya es di kutub, terutama sekitar Greenland dapat meningkatkan volume air di laut yang menyebabkan terjadi penambahan tinggi permukaan laut di seluruh dunia. Pada abad ke-20 telah terjadi kenaikan permukaan air laut 20-25 cm. Apabila separuh es Greenland dan Antartika meleleh maka terjadi kenaikan permukaan air laut rata-rata setinggi 6-7 meter. Kenaikan permukaan air dapat menyebabkan terendamnya daratan yang merupakan habitat mahluk hidup.

Sejarah Geologi Menentukan Kekayaan Hayati


Mengapa terdapat wilayah-wilayah biogeografi yang berbeda-beda di Bumi ini ? 
Kuncinya terletak pada geologi dan iklim di Bumi kita yang terus berubah (Whitmore, 1981; 1987). Maka, sejarah geologi dan paleoklimatologi akan menentukan asal muasal kekayaan hayati. Nusantara secara geologi dibentuk oleh perbenturan dua massa fragmen benua : Laurasia di utara dan Gondwana di selatan. Sejarahnya dimulai ketika bagian benua selatan Gondwana retak dan terapung ke utara pada sekitar 140 juta tahun yang lalu (tyl) (ujung Yura). Tumbuhan berbunga telah mulai berevolusi pada saat Benua Gondwana terdisintegrasi. Baik flora maupun fauna dapat mencapai Nusantara tanpa perlu menyeberangi air melalui tiga rute : Laurasia, Gondwana via Australia, atau Gondwana via India kemudian diikuti migrasi ke tenggara.