Rabu, 11 April 2012

Puncak bukanlah Segalanya ...


Puncak gunung, selama ini bagi para penggiat alam bebas pendaki gunung merupakan tujuan akhir dari apa yang dilakukan yang diawali dari niat dan impian. Jadi, jika kita mendaki tingginya gunung, tak akan "syah" dimata para petualang gunung lain, bila kita tak sampai bisa menggapai puncak. Sehingga apapun caranya dan bagaimanapun keadaannya, kita selalu berusaha mencapai puncak tertinggi dari gunung yang kita daki.

Tetapi benarkah syah dan tidaknya pendaki gunung jika telah bisa menggapai puncak tertinggi dari gunung yang di daki? Hanya sesederhana itu? Ada sebuah cerita dari sebuah novel Jepang.

Ada yang berpetuah bahwa hidup ini bagaikan mendaki gunung. Orang yang sukses otomatis adalah mereka yang mampu mencapai ketinggian gunung tersebut. Dan ini menjadi ukuran kesuksesan seseorang. Tapi petuah itu tidak berlaku bagi Hideyoshi, tokoh dalam novel Eiji Yoshikawa, Taiko.

Tujuan hidup ini adalah bukan mencapai puncak ketinggian. Ukuran kesuksesan bukan ketika berada pada puncak gunung. Tujuan hidup adalah menyadari kenikmatan. Dan kenikmatan itu ditemukan dalam perjalanan menuju puncak tertinggi, saat melintasi jurang, saat mendaki tebing terjal, saat terjebak di tengah hutan, saat terancam binatang buas. Lalu, dimanakah kenikmatannya?

Kenikmatannya adalah saat kita bisa menyelesaikan permasalahan itu. Saat kita mampu melindungi diri dari ancaman. Jadi tujuan hidup itu adalah menginsyafi pergulatan hidup itu sendiri.

Mari kita mengambil metode seperti kronikel, bahwa selembar photo dan sertifikat yang sering menjadi acuan sebagai bukti pendakian kita adalah simbolik, tetapi tidak menunjukkan peristiwa itu sendiri. Proses pendakian yang lebih dalam, pernik dan krisis pendakian sebuah tim dipandang dari urutan awal hingga akhir. Hal ini akan membuat kita lebih mudah sadar dan mengerti, setiap pendakian gunung dimana saja, janganlah dipandang sebuah hasil akhir saja. Tetapi harus dilihat adanya proses panjang yang menentukan seorang pendaki itu adalah pendaki yang sebenarnya. Jadi, tak salah bila : Puncak Bukanlah Segalanya.