Minggu, 08 Mei 2011

Kewajiban Untuk menyampaikan Ilmu


Seringkali kita berpikir bahwa kewajiban berdakwah hanyalah milik seorang mubaligh berpengalaman atau ustadz/ustadzah yang sudah mumpuni ilmunya. Padahal kita sebagai manusia dan sebagai hamba Allah yang dipercaya untuk menjadi khalifahnya dimuka bumi juga memiliki kewajiban untuk berdakwah. Saya sebut “kita” artinya setiap manusia tidak ada pengecualian.

Hal tersebut di atas berkaitan dengan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi, Balighu “anni walau ayyah” (Sampaikanlah dariku, walaupun hanya satu ayat). Bila kita pahami dalam hadits diatas mengandung dua definisi penting, yakni :

1. Eksistensi
Hadits yang mengandung kata “baliighu” yang artinya “sampaikan” adalah sebuah bukti bahwa “tabligh” atau “menyampaikan” adalah salah satu sifat wajib seorang Rasul. Dengan didukung dengan sifat wajib lainnya, “amanah”, maka beliau menyampaikan hal ini kepada umatnya, kita semua, manusia.

Eksistensi lain yang terkandung dalam hadits ini adalah “walau ayyah” yang artinya “meski hanya satu ayat”. Maknanya bahwa untuk bisa menyampaikan (berdakwah), seorang manusia sekaliber Rasulullah SAW sekalipun tidak harus menunggu seluruh informasi dan data yang membuktikan bahwa “Islam itu unggul dan tidak (akan) ada yang (bisa) mengunggulinya” telah beliau peroleh. Ketika sebuah wahyu turun kepada beliau, seketika itu pula beliau sampaikan. Karena setiap wahyu yang diturunkan selalu berhubungan langsung dengan kondisi yang terjadi, kondisi masa lalu yang perlu diceritakan, atau kondisi masa depan yang perlu disampaikan saat itu.

2. Instruksi
Sebuah konsekuensi logis bagi kita, umat manusia, ketika mengetahui ada sebuah hadits, yang merupakan salah satu wasiat dari Rasulullah, maka harus menjalankannya. Karena akhlak Rasulullah SAW adalah Al Quran sehingga apa yang beliau sampaikan pasti bersumber dari Allah pula. Khusus hadits “sampaikan walau satu ayat” di dalamnya benar-benar ada makna instruksi bagi umat manusia, terutama “orang-orang (yang mengaku) beriman” untuk menindaklanjuti isi dari hadits tersebut.

Kata pertama adalah “sampaikan”. Apabila diartikan secara mudah kata “sampaikan” bermakna “sekedar” menginformasikan dan selanjutnya selesai. Ternyata, menurut sebagian ulama yang paham bahasa aslinya, kata “sampaikan” dalam hadits tersebut bermakna lebih dalam, yakni “sampaikan sehingga dengan benar-benar sampai”.

Jadi, supaya tercapai tujuannya minimal perlu tiga unsur pendukung:
a. Communication skill (teknik berkomunikasi)
b. Consistency (terus menerus)
c. Qudwah (keteladanan)

Instruksi berikutnya adalah satu frasa terakhir dari hadits tersebut yaitu “walau ayyah” yang artinya “meski hanya satu ayat”. Sebuah perintah bagi umat manusia terutama bagi orang-orang beriman agar “menyampaikan” sekecil apapun yang dimiliki tentang pemahaman keislamannya.

Ada sebagian orang yang merasa baru pantas menyampaikan tentang pemahaman keislamannya ketika dia telah berbekal ilmu yang cukup. Namun bila kita telusuri, sampai ajal menjemput pun belum tentu pemahaman seorang manusia tentang keseluruhan ajaran Islam akan tercukupi. Kondisi ini mengakibatkan seorang muslim kehilangan kesempatan untuk menyampaikan apa yang telah dipahaminya.

Sebagai jalan tengah dari kondisi tersebut, kalimat “sampaikan meski hanya satu ayat” adalah solusinya. Substansi dari kalimat tersebut adalah sesedikit apapun ilmu yang baru diperoleh, asal disertai dengan landasan yang kuat, segera sampaikanlah. Tidak perlu menunggu sampai mencapai level “kesempurnaan” ilmu untuk menyampaikannya. Karena Allah tidak menyukai orang-orang yang menyembunyikan ilmu, dalam hal ini Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 159-160 ;

159. Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang Telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah kami menerangkannya kepada manusia dalam Al kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati,

160. Kecuali mereka yang Telah Taubat dan mengadakan perbaikan* dan menerangkan (kebenaran), Maka terhadap mereka Itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Ayat ini walaupun turun dalam konteks kecaman terhdap orang-orang yahudi, redaksinya yang bersifat umum menjadikannya sebagai kecaman terhadap orang yang menyembunyikan apapun yang diperintahkan agama untuk disampaikan, baik ajaran agama maupun ilmu pengetahuan/ hak manusia.

Dalma konteks ini Rosul SAW bersabda: “Siapa yang ditanyai tentang ilmu, lalu ia menyembunyikannya, dihari kemudian diletakkan di mulutnya kendali yang terbuat dari api neraka”. Walau demikian, perlu dicatat bahwa setiap ucapan ada tempatnya dan setiap tempat ada ucapannya yang sesuai. Memang, tidak semua apa yang diketahui boleh disebarluaskan, walaupun itu bagian dari ilmu syariat dan bagian dari informasi tentang pengetahuan hukum.

Allah Swt memerintahkan kita agar menerangkan ilmu. Karena seperti yang kita ketahui bahwa ilmu itu akan berguna bagi kita, tidak hanya ketika kita sudah mempelajari, menguasai dan mengamalkannya saja. Tetapi ada faktor lain yang kadang terlupa bagi orang berilmu itu adalah pentingnya berbagi kepada sesama agar ilmu yang kita pelajari dapat bermanfaat dan berkah.

Dalam QS Al-Mujadillah : 11 dijelaskan agama islam memberikan informasi bahwa sebagai umat muslim wajib menuntut ilmu, karena sudah jelas ada perbedaan antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu. Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu, dengan memilki ilmu maka semua yang dikerjakan akan disertai dengan ilmu yang berkaitan.

Serta pada QS Al-Baqarah : 159-160 Allah juga menerangkan bahwa ilmu itu wajib untuk dibagi dan disebarluaskan, bahkan laknat dari Allah dan orang-orang yang bisa melaknat akan datang kepada mereka yang menyembunyikan ilmu yang telah dimiliki.


Referensi : http://www.mail-archive.com